Friday, 1 June 2018

Kawasaran Negeri Warembungan

Kawasaran adalah tari perang suku bangsa minahasa.
Kawasaran berasal dari kata;
kawak yg berarti melindungi
Dan Asaran yg berarti berlaku seperti.
Kawasaran berarti berlaku seperti leluhur menjadi pelindung negeri, penjaga tradisi.
Kawasaran di negeri Warembungan adalah seni perang warisan dari para leluhur pelindung negeri.
Negeri Warembungan didirikan pada awal tahun 1800an oleh empat Dotu, yakni; Rori(Wali'an/Pemimpin Up.Adat), Tinus(Mahpu'pu'iz/Waraney/Pelindung Negeri), Mantororing dan Tamandatu.
Sejarah kawasaran diNegeri Warembungan tidak lepas dari peran para mahpu'pu'iz/Waraney/pelindung negeri/pengambil kepala musuh.
Ketika peperangan melawan Wantik dan mangindano mulai mereda pada akhir 1800an, maka pengetahuan perang para Waraney disimpan dlm bentuk seni, yakni seni kawasaran.
Pada perkembangannya kawasaran menjadi seni tari tanpa meninggalkan tradisi lama kecuali bagian mamuiz(mengambil kepala musuh).
Para waraney Pemimpin dan pemain kawasaran masih terikat hubungan darah, keluarga.
Inilah para pemimpin kawasaran setelah konflik dgn wantik dan mangindano mereda, yakni;
1. Sarian Laurens Tuerah/Tete Kilis(alm). 16 Nov 1876 - 2 Juli 1973,
istrinya adalah cucu dari Dotu Tinus
2. Sarian Marsela Sumarauw/Papa Tin (alm), ibunya Dina Tinus cucu dari Dotu Tinus. Kakak tertua dari oma saya Vinsensia Mene Sumarauw
3. Sarian Pedi Moningka (alm)
4. Sarian Lambertus Koraag/om bitu
5. Sarian Alexander Lontaan/om Sande.
Setiap pergantian pemimpin kawasaran harus didengarkan tanda burung "Ot" melalui Up.adat "Tumalinga si ko'ko", apakah direstui atau tidak.
Bagi saya kawasaran adalah jalan hidup, tradisi seni dari Para Leluhur dan itu mengalir di nadi.
Kawasaran adalah warisan keluarga yg harus tetap dijaga dan dihidupi, ini adalah tarian jiwa penghubung para leluhur dimasa lampau dan pengingat jatidiri kita hari ini.
Kawasaran adalah penanda Taranak, keluarga para pelindung negeri penjaga tradisi.
Sekarang kawasaran ada yg masih berdasarkn warisan tradisi keluarga, adapula kawasaran kelompok tari, diajari.
Yang terpenting dari kawasaran adalah memaknai setiap gerakan, ucapan dan atribut yg dipakai karena sekedar menari saja tidaklah cukup.
Hari ini kita hidup ditengah modernitas tetapi kita tidak boleh meninggalkn tradisi warisan para leluhur karena itu adalah jatidiri kita, pijakan kita sebagai Tou Minahasa.
Karena.....
Seberapa jauh kaki kita melangkah
itu tergantung pada seberapa kuat kita berpijak
I Yayat U Santi!!!

No comments:

Post a Comment