Datu Wuisang disebut pula sebagai Ponto Wuisang yang berarti Yang Mulia Baginda Wuisan. Pada masa kedatuan, Wuisang tergolong datu yang berkuasa dalam tempo yang pendek, karena kekuasaan di tangannya dimulai pada usia yang sangat dewasa yaitu pada umur 40an tahun. Selaku kasili alias pangeran kedatuan Siau dari keturunan Posuma pada isteri pertama, Wuisang muda, sebelum menjadi datu, ia sering berlayar ke Pulau Sangihe.
Wuisang mempunyai kisah kasih yang sangat romantis dengan salah seorang putri raja di Pulau Sangihe. Kisah cintanya diawali dari perjalanannya dari Kedatuan Tahuna menuju Kedatuan Kolongan. Sore itu di sebuah sungai kecil, nampak terlihat beberapa orang gadis sedang mandi. Wuisang berdiri di atas pulangeng dan melambaikan tangannya ke arah gadis-gadis yang sedang mandi itu. Ternyata sungai kecil itu adalah tempat permandian Sangiang Pirambai. Sangiang adalah gelar yang disematkan kepada seorang puteri raja. Sangiang Pirambai ialah cucu dari Kulano Ratumbahe, sahabat dari Lokongbanua II.
No comments:
Post a Comment