Monday, 9 July 2018

Pesan apo mamarimbing

Siow siow si makasiow.
Pesan apo mamarimbing.
Mawaya rondor malingen lingen ma ambow Si'Amang Kasuruan Wangko..

En'da ku ma'royong en'da mamarimbing.. copus ku asi kinatouanku si Tana mina'esa anio mande ma'tongkar i nowak ku , kelung ku sama si tana nanyo.. rai'ca toro ma trosol ang tana iyanyo , sianyo un tana adat cami.

Asi amang kasuruan ma'sere sere cita waya
Terjemahan :
Darah ku mengalir darah apo mamarimbing. Demi kecintaan ku pda tanah minahasa aku siap mati membela tanah ini. Jangan pernah sekalipun mengganggu tanah kami ini tanah adat kami..

Tuhan yesus selalu melihat kita smua

Friday, 15 June 2018

Musyawarah di Batu "Tumotowa"

Sekitar abad ke-5 terjadi pemberontakan dan peperangan dari golongan Pasiowan Telu (Turunan Anak Ke enam dan Ke Tujuh dari Toar -Lumimuut),
karena tuntutan mereka agar tanah-tanah adat sebagai lahan pertanian yang sebagian besar sudah di-apar (diolah) sebagai milik golongan Makarua Siow dan Makatelu Pitu agar dibagi secara adil, menuntut agar sistem pengangkatan pemimpin tidak lagi bersifat otoritas golongan Makarua Siow dan golongan Makatelu Pitu, melainkan harus dipilih dari seluruh anggota masyarakat, tidak dikabulkan dengan alasan tidak sesuai dengan ketentuan adat...dengan Melihat Sebagaimana ketentuan adat, golongan Pasiowan Telu diwajibkan melakukan pekerjaan-pekerjaan untuk kepentingan umum dan pinontol (bekerja kepada para pemimpin), seperti menanam dan menuai. Selain itu diwajibkan membagi hasil pertanian, peternakan maupun perburuan mereka kepada golongan Makarua Makasiow dan golongan Makatelu Pitu serta melakukan ketentuan-ketentuan adat misalnya mempersiapkan kurban persembahan setiap dilangsungkan ritual poso negeri dan menjaga keamanan negeri secara bergiliran (Drs. R. E. H. Kotambunan,Minahasa II & III, 1985).
**Info ttg Makarua Siouw,Makatelu Pitu dan Pasiouwan Telu:
Kehamilan pertama dan kedua Lumimuut melahirkan dua kali kembar sembilan, sehingga anak–anak itu di namakan Se Makarua Siow (2x9). Kemudian saat melahirkan ketiga, keempat dan kelima, seluruhnya kembar tujuh dan anak-anak itu dinamakan Se Makatelu Pitu (3x7). Pada kelahiran yang keenam dan ketujuh, Lumimuut memperoleh kembar tiga. Namun anak-anak itu bukan dinamakan Se Makarua Telu (2x3) melainkan Se Pasiowan Telu, karena setiap kali anak-anak itu dilahirkan, disambut dengan siulan burung Manguni sebanyak sembilan kali. Kelompok Makarua Siow kemudian menjadi Walian, Makatelu Pitu menjadi Tonaas dan Pasiowan Telu, menjadi rakyat biasa.
~Se Makarua Siow(2X9) Kelahiran Pertama dan Kedua.. kembar sembilan:
1.. Kembar sembilan
2. Kembar Sembilan
~Se Makatelu Pitu (3x7) Kelahiran Ketiga ,Ke empat dan KeLIma..Kembar 7
3.Kembar Tujuh
4.Kembar Tujuh
5.Kembar Tujuh
~Se Makarua Telu (2x3) Kelahiran Ke enam,Ke Tujuh.. Kembar Tiga,, tapi di Namakan Se Pasiouwan Telu (2X3) karena setiap kali anak2 itu di Lahirkan, di sambut dengan siulan Burung Manguni sebanyak sembilan kali
6. Kembar Tiga
7.Kembar Tiga
Kelompok Makarua Siow(18 org) menjadi Walian
Kelompok Makatelu Pitu (21 Orang) menjadi Tonaas
Kelompok Pasiouwan Telu (6 orang) menjadi Rakyat Biasa.
semuanya 45 anak dari Toar Lumimuut..**

Melihat peperangan antar Walak (kelompok Taranak) terus berlangsung, tahun 670, beberapa Walian dan Tonaas menyadari akan pentingnya suatu musyawarah di dalam usaha menciptakan kembali akan persatuan dan kesatuan yang berlangsung di sekitar kaki Gunung Tonderukan. Di tempat itu, terdapat sebuah batu “Tumotowa” tempat pelaksanaan ritual poso (J. G. F. Riedel, The Minahasa, 1862).
Kendati berlangsung alot, namun musyawarah yang dipimpin oleh Tonaas Kapero yang berasal dari kelompok Pasiowan Telu bersama Muntu Untu dari golongan Makarua Siow sebagai panitera/notulis dan Mandey sebagai saksi, berhasil mencapai beberapa kesepakatan penting, di antaranya:
- Menerima penetapan pembagian pemukiman setiap kaum Taranak
- Setiap kaum Taranak dapat mengembangkan ketentuan adat dan ritual yang tetap berlandaskan kepercayaan terhadap Empung Walian Wangko (Tuhan Yang Maha Agung) dan opo (leluhur).
- Setiap kaum Taranak dapat mengembangkan bahasa sesuai kehendak masing-masing, namun semuanya tetap mengaku sebagai satu Kasuruan, yang tidak dapat dicerai-beraikan oleh siapapun.
Pembagian wilayah pemukiman diatur sebagai berikut :
1. Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Mapumpun, Belung, dan Walian Kakamang menuju sekitar Gunung Lokon dan bermukim di Mayesu, dekat Kinilow dan Muung. Mereka disebut Tou Muung kemudian menjadi Tomohon. Mereka dinamakan Tombulu.
2. Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Walalangi dan Walian Rogi menuju ke Niaranan dan Kembuan (Tonsea Lama). Sebagian lagi mendirikan pemukiman di sekitar Gunung Kalawat (Kalabat). Mereka disebut “Tou Un Sea” (Tonsea)
3. Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Karemis dan Piay, pergi ke arah barat dan menyebar ke Tombasian, Kawangkoan, Langowan, Rumoong (Tareran) dan Tewasen.
4. Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Pangemanan, Runtuwene dan Mamahit, menuju ke Kakas, Atep dan Limambot. Mereka dinamakan Toulour.
5. Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Wuntu, menuju ke Bentenan. Sebagian lagi mendirikan pemukiman di Ratan. Mereka disebut Ratahan. Yang menuju ke Towuntu (Liwutung), mereka disebut tou Pasan. Beberapa di antara tou Pasan mengadakan tumani dan bermukim di Tawawu (Tababo), Belang dan Watuliney, membaur dengan penduduk dari Taranak Ponosakan, yaitu keluarga Butiti, Wumbunan dan Tubelan yang datang dari Wulur Mahatus (Pontak). Mereka disebut tou Ponosakan.
6. Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Kamboyan, menuju ke dataran sekitar Danau Bulilin, tempat asal mereka semula dan mendiami pemukiman di Bukit Batu, Kali dan Abur. Mereka disebut Toundanouw, artinya orang yang tinggal di sekitar air. Kemudian bangsa Belanda menamakan mereka Tonsawang, artinya orang yang suka menolong.
7. Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Angkoy dan Maindangkay menuju ke arah barat hingga tiba di sekitar Gunung Bantik dan mendirikan pemukiman Malalayang. Beberapa di antara mereka pergi bermukim di Pogidon dan Singkil. Karena bermukim di sekitar Gunung Bantik, mereka dinamakan tou Bantik.
Adapun salah satu keputusan penting dari musyawarah di batu ‘’Tumotowa’’ yaitu pembagian wilayah, sehingga batu itu dinamakan ‘’Watu Pinawetengan’’, artinya batu tempat pembagian. Dalam perjalanan sejarah ternyata perang antar anak suku di Malesung masih sering terjadi, sehingga 1428 para pemimpin Minahasa kembali mengadakan musyawarah di sekitar Watu Pinawetengan. Adapun keputusan yang dicapai dalam musyawarah, yaitu: nama ‘’Malesung’’ diubah menjadi ‘’Minahasa’’, berasal dari kata esa (satu), diberi awalan ma dan sisipan in, maka terbentuklah kata ‘’Maha Esa’’ (menyatukan), kemudian menjadi ‘’Minahasa’’ (Dr. Godee Molsbergen, Geschiedenis Van De Minahasa, 1929), artinya yang menjadi satu, yaitu menyatukan seluruh anak suku Minahasa: Tontemboan, Tombulu, Tonsea, Toulour, Pasan, Ratahan, Ponosakan, Tonsawang dan Bantik.

Wednesday, 6 June 2018

Waraney

Sekilas tentang " WARANEY "

Pada zaman dahulu istilah nama Waranei adalah seorang laki-laki yg sudah remaja yang ditugaskan oleh Walian agar  masuk kedalam hutan untuk berburu...

Dalam suatu kelompok terdapat seorang  pemimpin(Tona'as) dan Walian(Imam) juga ada beberapa keluarga yang tinggal bersama-sama.
Saat itu mereka, saling menghidupi satu dengan yang lain, juga dalam mengerjakan sesuatu selalu bergotong royong yang disebut dengan "Mapalus"...
Suatu ketika jika dari salah satu keluarga mempunyai anak laki-laki yang sudah cukup umur, maka Walian akan mengutus anak laki-laki itu agar masuk kedalam hutan untuk berburu / mencari makanan bagi keluarganya dan keluarga lainnya tanpa senjata ataupun alat untuk berburu, entah bagaimana caranya untuk berburu, yang terpenting adalah JANGAN PULANG, SEBELUM MENDAPATKAN HASIL !,.
Sebelum masuk kedalam hutan Anak laki-laki tersebut didoakan oleh Walian kepada Opo Wananatas(Tuhan yang diatas) dan menyerahkannya kepada alam untuk di uji ketangkasannya sebagaimana lelaki sejati...
Ada beberapa yg pulang membawah hasil buruan, ada juga yang mati dan ada yang malu untuk pulang karna tidak mempunyai.hasil buruan, sehiingga dia melanjutkan perjalanan hingga menetap di tempat itu dan menemukan keluarga baru...
Tidak ada kesaktian berupa mandi kabal atau ilmu-ilmu lainnya, jadi kekebalan diri hanya diperoleh dari alam...
Wajar saja saat itu sebelum ada kain, baju mereka hanya terbuat dari kulit kayu..
Jadi karna sudah terbiasa tanpa menggunakan alas kaki maka ketika terinjak duri pun tak dihiraukan krna kulit tubuh sudah menjjadi tebal karna proses alamia...

- saling Menghormati
- saling tolong-menolong
- saling menghargai
- saling menasehati
- saling bersatu

Pakatuan wo pakalawiren, kita imbaya...

Tari Maengket

Tari Maengket adalah salah satu tarian tradisional masyarakat Minahasa yang tinggal di Sulawesi Utara. Tarian ini biasanya dilakukan secara masal (penari dengan jumlah yang banyak), baik penari pria maupun penari wanita. Tari Maengket ini merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di Sulawesi Utara dan masih terus dipertahankan sampai sekarang. Tarian ini sering ditampilkan di berbagai acara seperti panen raya, upacara adat, penyambutan, pertunjukan seni dan lain-lain.
Sejarah Dan Perkembangan Tari Maengket
Menurut sejarahnya, Tari Maengket sudah ada sejak masyarakat Minahasa mengenal pertanian, terutama menanam padi di ladang. Pada zaman dahulu, Tari Maengket ini ditampilkan untuk memeriahkan upacara panen raya sebagai ungkapan rasa syukur dan gembira terhadap Tuhan atas hasil panen yang mereka dapatkan.
Pada zaman dahulu gerakan Tari Maengket ini masih menggunakan gerakan-gerakan yang sederhana. Sedangkan pada saat ini Tari Maengket sudah berkembang baik dalam segi tarian dan bentuk pertunjukan, namun tidak meninggalkan keasliannya. Selain itu tarian ini tidak hanya ditampilkan saat acara panen padi saja, namun juga ditampilkan di berbagai acara seperti acara adat, acara penyambutan, pertunjukan seni, festival budaya, bahkan menjadi salah satu daya tarik wisata bagi para wisatawan yang datang ke sana.
Fungsi Dan Makna Tari Maengket
Seperti yang dikatakan sebelumnya, Tari Maengket ini dulunya ditampilkan untuk memeriahkan upacara panen raya masyarakat Minahasa. Tarian ini dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dan kebahagiaan masyarakat atas hasil panen yang mereka dapatkan. Namun apabila melihat bentuk pertunjukan atau gerak Tari Maengket pada masa sekarang ini, tidak hanya menggambarkan ungkapan rasa syukur namun juga menggambarkan kehidupan masyarakat Minahasa sehari-harinya. Nama Tari Maengket sendiri diambil dari kata “engket” yang dalam bahasa setempat berarti mengangkat tumit kaki naik turun. Dengan tambahan “ma” pada kata engket ini bisa diartikan menari dengan naik turun.
Pertunjukan Tari Maengket
Tari Maengket biasanya dilakukan secara masal atau dilakukan dengan jumlah penari banyak. Tarian ini biasanya dimainkan oleh penari pria dan wanita secara berpasangan serta dipimpin oleh satu orang wanita. Dalam pertunjukannya, penari menari dengan gerakannya yang khas serta menyanyikan lagu-lagu adat dan diringi musik pengiring.
Dalam pertunjukannya, Tari Maengket terdiri dari 3 babak yaitu Maowey Kamberu, Marambak dan Lalayaan. Pada babak Maowey Kamberu menggambarkan ungkapan rasa syukur atas panen mereka yang melimpah. Kemudian pada babak Marambak menggabarkan semangat gotong royong masyarakat Minahasa. Sedangkan pada babak Lalayaan menggambarkan pemuda dan pemudi Minahasa dalam mencari jodoh atau bisa disebut juga dengan tari pergaulan muda-mudi Minahasa pada zaman dahulu.
Pengiring Tari Maengket
Dalam pertunjukan Tari Maengket biasanya hanya diiringi dengan iringan musik tambur. Namun ada juga yang menggunakan musik tradisional lain sebagai tambahan atau variasi seperti alat musik Tifa dan Kolintang. Untuk irama yang dimainkan biasanya mengikuti gerakan tari dan lagu adat yang dinyanyikan oleh para penari.
Kostum Tari Maengket
Kostum yang digunakan para penari dalam pertunjukan Tari Maengket biasanya menggunakan pakaian adat. Para penari wanita biasanya menggunakan busana seperti kebaya dan kain panjang khas Sulawesi Utara. Pada bagian rambut biasanya digelung atau dikonde. Sedangkan untuk penari pria biasanya menggunakan baju lengan panjang, celana panjang, dan penutup kepala khas Sulawesi Utara.
Untuk pemimpin tari biasanya menggunakan busana yang hampir sama dengan penari wanita. Namun ditambahkan beberapa kreasi seperti corak atau warna yang berbeda agar bisa membedakan. Untuk semua penari biasanya membawa sapu tangan yang akan digunakan untuk menari.
Pada pertunjukan Tari Maengket sekarang ini, kostum yang digunakan biasanya lebih bervariasi. Bahkan ada beberapa kelompok yang mengkreasikan kostum mereka dengan gaya modern, namun tidak meninggalkan kesan adat atau tradisionalnya. Hal ini tentu dilakukan sebagai pengembangan agar penampilannya terlihat menari.

Sasambo Raja Malahasa Tatehewoba

Naung i leleng bobane
(Keliling dunia)
Dario eng badoa
(Anak dunia)
Naung hiteng bawahani
(Keturunan pemberani)
Pine pulung i ampuang
(Keturunan ansuang)
Naung naka soso buntu
(Dunia bergolak lewat semesta alam)
Tamatataku bilorongang
(Tidak takut dengan badai/gelombang)
Tamadariang bilorongang
(Tidak perduli dengan badai/gelombang)
Bilorongang kai saune
(Maju terus pantang mundur walau badai d depan)
Bilorongan napaliu
(Lebih suka di tengah badai/gelombang)

Monday, 4 June 2018

Sepenggal kisah heroik waraney Minahasa

Major (permesta) David Pantow. eks KNIL yg pernah menjadi tawanan perang jepang diperang pasifik.Di tawan jepang di Rabaul (kamp interniran).Pada awal perang Permesta digorontalo,di desa telaga,kompinya terjebak ditengah-tengah satu Batalion TNI,dalam keadaan dikepung & diserbu tembakan jarak dekat oleh tentara pusat ke posisi kompinya,maka mayor (permesta) David Pantow beserta perwira peleton yg juga eks KNIL dgn pistol ditangan kiri & Kelewang ditangan kanan mereka berdua maju & MEMOTONG-MOTONG RATUSAN TNI tersebut sampai tewas akhirnya kompi mayor permesta David Pantow mendapat celah utk keluar dari kepungan.

ditahun 1960 didaerah dumoga stelah dipercayakan memimpin Batalion O/pinaesaan.mayor (permesta) David Pantow beserta batalionnya memukul mundur telak Batalion 521/Brawijaya TNI sehingga ratusan personil TNI dari batalion 521/brawijaya trsebut Tewas.

Mayor (permesta) David pantow secara licik dijebak & dibunuh oleh tentara pusat diperjalanan saat dia bersama tentara2 pusat ditugaskan utk mensosialisasikan hasil kesepakatan 14 april 1961 (gencatan senjata permesta-pusat) ke permesta2 yg masih dengan gigih terus berjuang diwilayah-wilayah pertahanannya.

Mayor (permesta) David Pantow & perwira menengah permesta lainnya yg ikut dgn rombongan tentara pusat utk misi sosialisasi tersebut dibunuh dalam perjalanan itu.Pembunuhan itu dilakukan tentara pusat karena dendam  mereka kpd mayor (permesta) David pantow akibat peristiwa yg terjadi ditelaga gorontalo (dendam peristiwa telaga) dimana mayor (permesta) David pantow beserta rekannya kala itu hanya dgn kelewang & pistol memotong-motong & membunuh ratusan personil TNI pusat trsebut.

Kemudian dilaporkan tentara pusat bahwa mayor (permesta) David Pantow beserta beberapa perwira menengah tentara permesta disergap & dibunuh oleh tentara permesta yg tidak mau menerima penyelesaian perang permesta.

Nico Tiwang

Nico Tiwang eks Permesta Bn. D "Sambar Nyawa"

Sebelum pecah pergolakan tahun 1958, Nico Tiwang ini adalah seorang pemuda Minahasa yang energik. Dirinya pernah bergabung dengan salah satu sasana tinju di Tomohon. Sempat pula ia menjadi petinju amatir.
Namun ketika pecah perang Permesta, yang diawali oleh pengeoboman pihak AURI di Manado tanggal 22 Februari 1958 dan banyak pemuda dimiliterisasi oleh Permesta, Nico Tiwang ikut terjaring masuk Permesta pada umur sekitar 20an tahun. Dia bergabung dengan pasukan Kompi D pimpinan Daan Karamoy asal Tataaran sebagi bagian dari pasukan KMKB Manado pimpinan Mayor Ottay.
Sempat ikut berperang di front Warembungan-Pineleng bulan Juli-Agustus, menahan laju 1 tim RPKAD, Hasanudin 601, Brawijaya 517, dan 1 Regu Zeni Pionir pimpinan Mayor Suwarno.
Ketika perang memasuki fase gerilya dan pasukan Karamoy masuk hutan di kawasan Rumengkor-Kembes, Nico Tiwang masih tetap ikut hingga tahun 1961.
Mereka adalah kelompok yang terkenal pernah menangkap sejumlah perwira intelejen RTP I di jajaran KODAM XIII Merdeka. Salah seorang di antaranya Letkol. Ismoro, Mayor Supangkat, dkk bulan September 1958.
Ketika perjanjian perdamaian disepakati bersama antara Permesta dan tentara Pusat di Malenos-Amurang tanggal 4 April 1961 dan segenap pasukan Permesta kembali ke pangkuan ibu pertiwi Nico juga ikut.
Bersama teman-teman, mereka diberangkatkan dengan sebuah kapal bernama Hongkong Vir yang dikawal oleh Brawijaya 523 menuju Jombang Jawa-Timur dan masuk kamp-rehabilitasi di sana hingga selesai. Banyak teman-temannya yang melanjutkan pendidikan sebagai TNI tapi Nico rupanya kembali ke masyarakat.
Nico Tiwang menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Rabu tanggal 11 Oktober 2017 di kampung Kaleosan Kec. Kalawat, Aermadidi, Sulawesi Utara dan dimakamkan di sana.