Friday, 15 June 2018

Musyawarah di Batu "Tumotowa"

Sekitar abad ke-5 terjadi pemberontakan dan peperangan dari golongan Pasiowan Telu (Turunan Anak Ke enam dan Ke Tujuh dari Toar -Lumimuut),
karena tuntutan mereka agar tanah-tanah adat sebagai lahan pertanian yang sebagian besar sudah di-apar (diolah) sebagai milik golongan Makarua Siow dan Makatelu Pitu agar dibagi secara adil, menuntut agar sistem pengangkatan pemimpin tidak lagi bersifat otoritas golongan Makarua Siow dan golongan Makatelu Pitu, melainkan harus dipilih dari seluruh anggota masyarakat, tidak dikabulkan dengan alasan tidak sesuai dengan ketentuan adat...dengan Melihat Sebagaimana ketentuan adat, golongan Pasiowan Telu diwajibkan melakukan pekerjaan-pekerjaan untuk kepentingan umum dan pinontol (bekerja kepada para pemimpin), seperti menanam dan menuai. Selain itu diwajibkan membagi hasil pertanian, peternakan maupun perburuan mereka kepada golongan Makarua Makasiow dan golongan Makatelu Pitu serta melakukan ketentuan-ketentuan adat misalnya mempersiapkan kurban persembahan setiap dilangsungkan ritual poso negeri dan menjaga keamanan negeri secara bergiliran (Drs. R. E. H. Kotambunan,Minahasa II & III, 1985).
**Info ttg Makarua Siouw,Makatelu Pitu dan Pasiouwan Telu:
Kehamilan pertama dan kedua Lumimuut melahirkan dua kali kembar sembilan, sehingga anak–anak itu di namakan Se Makarua Siow (2x9). Kemudian saat melahirkan ketiga, keempat dan kelima, seluruhnya kembar tujuh dan anak-anak itu dinamakan Se Makatelu Pitu (3x7). Pada kelahiran yang keenam dan ketujuh, Lumimuut memperoleh kembar tiga. Namun anak-anak itu bukan dinamakan Se Makarua Telu (2x3) melainkan Se Pasiowan Telu, karena setiap kali anak-anak itu dilahirkan, disambut dengan siulan burung Manguni sebanyak sembilan kali. Kelompok Makarua Siow kemudian menjadi Walian, Makatelu Pitu menjadi Tonaas dan Pasiowan Telu, menjadi rakyat biasa.
~Se Makarua Siow(2X9) Kelahiran Pertama dan Kedua.. kembar sembilan:
1.. Kembar sembilan
2. Kembar Sembilan
~Se Makatelu Pitu (3x7) Kelahiran Ketiga ,Ke empat dan KeLIma..Kembar 7
3.Kembar Tujuh
4.Kembar Tujuh
5.Kembar Tujuh
~Se Makarua Telu (2x3) Kelahiran Ke enam,Ke Tujuh.. Kembar Tiga,, tapi di Namakan Se Pasiouwan Telu (2X3) karena setiap kali anak2 itu di Lahirkan, di sambut dengan siulan Burung Manguni sebanyak sembilan kali
6. Kembar Tiga
7.Kembar Tiga
Kelompok Makarua Siow(18 org) menjadi Walian
Kelompok Makatelu Pitu (21 Orang) menjadi Tonaas
Kelompok Pasiouwan Telu (6 orang) menjadi Rakyat Biasa.
semuanya 45 anak dari Toar Lumimuut..**

Melihat peperangan antar Walak (kelompok Taranak) terus berlangsung, tahun 670, beberapa Walian dan Tonaas menyadari akan pentingnya suatu musyawarah di dalam usaha menciptakan kembali akan persatuan dan kesatuan yang berlangsung di sekitar kaki Gunung Tonderukan. Di tempat itu, terdapat sebuah batu “Tumotowa” tempat pelaksanaan ritual poso (J. G. F. Riedel, The Minahasa, 1862).
Kendati berlangsung alot, namun musyawarah yang dipimpin oleh Tonaas Kapero yang berasal dari kelompok Pasiowan Telu bersama Muntu Untu dari golongan Makarua Siow sebagai panitera/notulis dan Mandey sebagai saksi, berhasil mencapai beberapa kesepakatan penting, di antaranya:
- Menerima penetapan pembagian pemukiman setiap kaum Taranak
- Setiap kaum Taranak dapat mengembangkan ketentuan adat dan ritual yang tetap berlandaskan kepercayaan terhadap Empung Walian Wangko (Tuhan Yang Maha Agung) dan opo (leluhur).
- Setiap kaum Taranak dapat mengembangkan bahasa sesuai kehendak masing-masing, namun semuanya tetap mengaku sebagai satu Kasuruan, yang tidak dapat dicerai-beraikan oleh siapapun.
Pembagian wilayah pemukiman diatur sebagai berikut :
1. Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Mapumpun, Belung, dan Walian Kakamang menuju sekitar Gunung Lokon dan bermukim di Mayesu, dekat Kinilow dan Muung. Mereka disebut Tou Muung kemudian menjadi Tomohon. Mereka dinamakan Tombulu.
2. Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Walalangi dan Walian Rogi menuju ke Niaranan dan Kembuan (Tonsea Lama). Sebagian lagi mendirikan pemukiman di sekitar Gunung Kalawat (Kalabat). Mereka disebut “Tou Un Sea” (Tonsea)
3. Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Karemis dan Piay, pergi ke arah barat dan menyebar ke Tombasian, Kawangkoan, Langowan, Rumoong (Tareran) dan Tewasen.
4. Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Pangemanan, Runtuwene dan Mamahit, menuju ke Kakas, Atep dan Limambot. Mereka dinamakan Toulour.
5. Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Wuntu, menuju ke Bentenan. Sebagian lagi mendirikan pemukiman di Ratan. Mereka disebut Ratahan. Yang menuju ke Towuntu (Liwutung), mereka disebut tou Pasan. Beberapa di antara tou Pasan mengadakan tumani dan bermukim di Tawawu (Tababo), Belang dan Watuliney, membaur dengan penduduk dari Taranak Ponosakan, yaitu keluarga Butiti, Wumbunan dan Tubelan yang datang dari Wulur Mahatus (Pontak). Mereka disebut tou Ponosakan.
6. Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Kamboyan, menuju ke dataran sekitar Danau Bulilin, tempat asal mereka semula dan mendiami pemukiman di Bukit Batu, Kali dan Abur. Mereka disebut Toundanouw, artinya orang yang tinggal di sekitar air. Kemudian bangsa Belanda menamakan mereka Tonsawang, artinya orang yang suka menolong.
7. Kaum Taranak yang dipimpin oleh Tonaas Angkoy dan Maindangkay menuju ke arah barat hingga tiba di sekitar Gunung Bantik dan mendirikan pemukiman Malalayang. Beberapa di antara mereka pergi bermukim di Pogidon dan Singkil. Karena bermukim di sekitar Gunung Bantik, mereka dinamakan tou Bantik.
Adapun salah satu keputusan penting dari musyawarah di batu ‘’Tumotowa’’ yaitu pembagian wilayah, sehingga batu itu dinamakan ‘’Watu Pinawetengan’’, artinya batu tempat pembagian. Dalam perjalanan sejarah ternyata perang antar anak suku di Malesung masih sering terjadi, sehingga 1428 para pemimpin Minahasa kembali mengadakan musyawarah di sekitar Watu Pinawetengan. Adapun keputusan yang dicapai dalam musyawarah, yaitu: nama ‘’Malesung’’ diubah menjadi ‘’Minahasa’’, berasal dari kata esa (satu), diberi awalan ma dan sisipan in, maka terbentuklah kata ‘’Maha Esa’’ (menyatukan), kemudian menjadi ‘’Minahasa’’ (Dr. Godee Molsbergen, Geschiedenis Van De Minahasa, 1929), artinya yang menjadi satu, yaitu menyatukan seluruh anak suku Minahasa: Tontemboan, Tombulu, Tonsea, Toulour, Pasan, Ratahan, Ponosakan, Tonsawang dan Bantik.

Wednesday, 6 June 2018

Waraney

Sekilas tentang " WARANEY "

Pada zaman dahulu istilah nama Waranei adalah seorang laki-laki yg sudah remaja yang ditugaskan oleh Walian agar  masuk kedalam hutan untuk berburu...

Dalam suatu kelompok terdapat seorang  pemimpin(Tona'as) dan Walian(Imam) juga ada beberapa keluarga yang tinggal bersama-sama.
Saat itu mereka, saling menghidupi satu dengan yang lain, juga dalam mengerjakan sesuatu selalu bergotong royong yang disebut dengan "Mapalus"...
Suatu ketika jika dari salah satu keluarga mempunyai anak laki-laki yang sudah cukup umur, maka Walian akan mengutus anak laki-laki itu agar masuk kedalam hutan untuk berburu / mencari makanan bagi keluarganya dan keluarga lainnya tanpa senjata ataupun alat untuk berburu, entah bagaimana caranya untuk berburu, yang terpenting adalah JANGAN PULANG, SEBELUM MENDAPATKAN HASIL !,.
Sebelum masuk kedalam hutan Anak laki-laki tersebut didoakan oleh Walian kepada Opo Wananatas(Tuhan yang diatas) dan menyerahkannya kepada alam untuk di uji ketangkasannya sebagaimana lelaki sejati...
Ada beberapa yg pulang membawah hasil buruan, ada juga yang mati dan ada yang malu untuk pulang karna tidak mempunyai.hasil buruan, sehiingga dia melanjutkan perjalanan hingga menetap di tempat itu dan menemukan keluarga baru...
Tidak ada kesaktian berupa mandi kabal atau ilmu-ilmu lainnya, jadi kekebalan diri hanya diperoleh dari alam...
Wajar saja saat itu sebelum ada kain, baju mereka hanya terbuat dari kulit kayu..
Jadi karna sudah terbiasa tanpa menggunakan alas kaki maka ketika terinjak duri pun tak dihiraukan krna kulit tubuh sudah menjjadi tebal karna proses alamia...

- saling Menghormati
- saling tolong-menolong
- saling menghargai
- saling menasehati
- saling bersatu

Pakatuan wo pakalawiren, kita imbaya...

Tari Maengket

Tari Maengket adalah salah satu tarian tradisional masyarakat Minahasa yang tinggal di Sulawesi Utara. Tarian ini biasanya dilakukan secara masal (penari dengan jumlah yang banyak), baik penari pria maupun penari wanita. Tari Maengket ini merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di Sulawesi Utara dan masih terus dipertahankan sampai sekarang. Tarian ini sering ditampilkan di berbagai acara seperti panen raya, upacara adat, penyambutan, pertunjukan seni dan lain-lain.
Sejarah Dan Perkembangan Tari Maengket
Menurut sejarahnya, Tari Maengket sudah ada sejak masyarakat Minahasa mengenal pertanian, terutama menanam padi di ladang. Pada zaman dahulu, Tari Maengket ini ditampilkan untuk memeriahkan upacara panen raya sebagai ungkapan rasa syukur dan gembira terhadap Tuhan atas hasil panen yang mereka dapatkan.
Pada zaman dahulu gerakan Tari Maengket ini masih menggunakan gerakan-gerakan yang sederhana. Sedangkan pada saat ini Tari Maengket sudah berkembang baik dalam segi tarian dan bentuk pertunjukan, namun tidak meninggalkan keasliannya. Selain itu tarian ini tidak hanya ditampilkan saat acara panen padi saja, namun juga ditampilkan di berbagai acara seperti acara adat, acara penyambutan, pertunjukan seni, festival budaya, bahkan menjadi salah satu daya tarik wisata bagi para wisatawan yang datang ke sana.
Fungsi Dan Makna Tari Maengket
Seperti yang dikatakan sebelumnya, Tari Maengket ini dulunya ditampilkan untuk memeriahkan upacara panen raya masyarakat Minahasa. Tarian ini dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dan kebahagiaan masyarakat atas hasil panen yang mereka dapatkan. Namun apabila melihat bentuk pertunjukan atau gerak Tari Maengket pada masa sekarang ini, tidak hanya menggambarkan ungkapan rasa syukur namun juga menggambarkan kehidupan masyarakat Minahasa sehari-harinya. Nama Tari Maengket sendiri diambil dari kata “engket” yang dalam bahasa setempat berarti mengangkat tumit kaki naik turun. Dengan tambahan “ma” pada kata engket ini bisa diartikan menari dengan naik turun.
Pertunjukan Tari Maengket
Tari Maengket biasanya dilakukan secara masal atau dilakukan dengan jumlah penari banyak. Tarian ini biasanya dimainkan oleh penari pria dan wanita secara berpasangan serta dipimpin oleh satu orang wanita. Dalam pertunjukannya, penari menari dengan gerakannya yang khas serta menyanyikan lagu-lagu adat dan diringi musik pengiring.
Dalam pertunjukannya, Tari Maengket terdiri dari 3 babak yaitu Maowey Kamberu, Marambak dan Lalayaan. Pada babak Maowey Kamberu menggambarkan ungkapan rasa syukur atas panen mereka yang melimpah. Kemudian pada babak Marambak menggabarkan semangat gotong royong masyarakat Minahasa. Sedangkan pada babak Lalayaan menggambarkan pemuda dan pemudi Minahasa dalam mencari jodoh atau bisa disebut juga dengan tari pergaulan muda-mudi Minahasa pada zaman dahulu.
Pengiring Tari Maengket
Dalam pertunjukan Tari Maengket biasanya hanya diiringi dengan iringan musik tambur. Namun ada juga yang menggunakan musik tradisional lain sebagai tambahan atau variasi seperti alat musik Tifa dan Kolintang. Untuk irama yang dimainkan biasanya mengikuti gerakan tari dan lagu adat yang dinyanyikan oleh para penari.
Kostum Tari Maengket
Kostum yang digunakan para penari dalam pertunjukan Tari Maengket biasanya menggunakan pakaian adat. Para penari wanita biasanya menggunakan busana seperti kebaya dan kain panjang khas Sulawesi Utara. Pada bagian rambut biasanya digelung atau dikonde. Sedangkan untuk penari pria biasanya menggunakan baju lengan panjang, celana panjang, dan penutup kepala khas Sulawesi Utara.
Untuk pemimpin tari biasanya menggunakan busana yang hampir sama dengan penari wanita. Namun ditambahkan beberapa kreasi seperti corak atau warna yang berbeda agar bisa membedakan. Untuk semua penari biasanya membawa sapu tangan yang akan digunakan untuk menari.
Pada pertunjukan Tari Maengket sekarang ini, kostum yang digunakan biasanya lebih bervariasi. Bahkan ada beberapa kelompok yang mengkreasikan kostum mereka dengan gaya modern, namun tidak meninggalkan kesan adat atau tradisionalnya. Hal ini tentu dilakukan sebagai pengembangan agar penampilannya terlihat menari.

Sasambo Raja Malahasa Tatehewoba

Naung i leleng bobane
(Keliling dunia)
Dario eng badoa
(Anak dunia)
Naung hiteng bawahani
(Keturunan pemberani)
Pine pulung i ampuang
(Keturunan ansuang)
Naung naka soso buntu
(Dunia bergolak lewat semesta alam)
Tamatataku bilorongang
(Tidak takut dengan badai/gelombang)
Tamadariang bilorongang
(Tidak perduli dengan badai/gelombang)
Bilorongang kai saune
(Maju terus pantang mundur walau badai d depan)
Bilorongan napaliu
(Lebih suka di tengah badai/gelombang)

Monday, 4 June 2018

Sepenggal kisah heroik waraney Minahasa

Major (permesta) David Pantow. eks KNIL yg pernah menjadi tawanan perang jepang diperang pasifik.Di tawan jepang di Rabaul (kamp interniran).Pada awal perang Permesta digorontalo,di desa telaga,kompinya terjebak ditengah-tengah satu Batalion TNI,dalam keadaan dikepung & diserbu tembakan jarak dekat oleh tentara pusat ke posisi kompinya,maka mayor (permesta) David Pantow beserta perwira peleton yg juga eks KNIL dgn pistol ditangan kiri & Kelewang ditangan kanan mereka berdua maju & MEMOTONG-MOTONG RATUSAN TNI tersebut sampai tewas akhirnya kompi mayor permesta David Pantow mendapat celah utk keluar dari kepungan.

ditahun 1960 didaerah dumoga stelah dipercayakan memimpin Batalion O/pinaesaan.mayor (permesta) David Pantow beserta batalionnya memukul mundur telak Batalion 521/Brawijaya TNI sehingga ratusan personil TNI dari batalion 521/brawijaya trsebut Tewas.

Mayor (permesta) David pantow secara licik dijebak & dibunuh oleh tentara pusat diperjalanan saat dia bersama tentara2 pusat ditugaskan utk mensosialisasikan hasil kesepakatan 14 april 1961 (gencatan senjata permesta-pusat) ke permesta2 yg masih dengan gigih terus berjuang diwilayah-wilayah pertahanannya.

Mayor (permesta) David Pantow & perwira menengah permesta lainnya yg ikut dgn rombongan tentara pusat utk misi sosialisasi tersebut dibunuh dalam perjalanan itu.Pembunuhan itu dilakukan tentara pusat karena dendam  mereka kpd mayor (permesta) David pantow akibat peristiwa yg terjadi ditelaga gorontalo (dendam peristiwa telaga) dimana mayor (permesta) David pantow beserta rekannya kala itu hanya dgn kelewang & pistol memotong-motong & membunuh ratusan personil TNI pusat trsebut.

Kemudian dilaporkan tentara pusat bahwa mayor (permesta) David Pantow beserta beberapa perwira menengah tentara permesta disergap & dibunuh oleh tentara permesta yg tidak mau menerima penyelesaian perang permesta.

Nico Tiwang

Nico Tiwang eks Permesta Bn. D "Sambar Nyawa"

Sebelum pecah pergolakan tahun 1958, Nico Tiwang ini adalah seorang pemuda Minahasa yang energik. Dirinya pernah bergabung dengan salah satu sasana tinju di Tomohon. Sempat pula ia menjadi petinju amatir.
Namun ketika pecah perang Permesta, yang diawali oleh pengeoboman pihak AURI di Manado tanggal 22 Februari 1958 dan banyak pemuda dimiliterisasi oleh Permesta, Nico Tiwang ikut terjaring masuk Permesta pada umur sekitar 20an tahun. Dia bergabung dengan pasukan Kompi D pimpinan Daan Karamoy asal Tataaran sebagi bagian dari pasukan KMKB Manado pimpinan Mayor Ottay.
Sempat ikut berperang di front Warembungan-Pineleng bulan Juli-Agustus, menahan laju 1 tim RPKAD, Hasanudin 601, Brawijaya 517, dan 1 Regu Zeni Pionir pimpinan Mayor Suwarno.
Ketika perang memasuki fase gerilya dan pasukan Karamoy masuk hutan di kawasan Rumengkor-Kembes, Nico Tiwang masih tetap ikut hingga tahun 1961.
Mereka adalah kelompok yang terkenal pernah menangkap sejumlah perwira intelejen RTP I di jajaran KODAM XIII Merdeka. Salah seorang di antaranya Letkol. Ismoro, Mayor Supangkat, dkk bulan September 1958.
Ketika perjanjian perdamaian disepakati bersama antara Permesta dan tentara Pusat di Malenos-Amurang tanggal 4 April 1961 dan segenap pasukan Permesta kembali ke pangkuan ibu pertiwi Nico juga ikut.
Bersama teman-teman, mereka diberangkatkan dengan sebuah kapal bernama Hongkong Vir yang dikawal oleh Brawijaya 523 menuju Jombang Jawa-Timur dan masuk kamp-rehabilitasi di sana hingga selesai. Banyak teman-temannya yang melanjutkan pendidikan sebagai TNI tapi Nico rupanya kembali ke masyarakat.
Nico Tiwang menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Rabu tanggal 11 Oktober 2017 di kampung Kaleosan Kec. Kalawat, Aermadidi, Sulawesi Utara dan dimakamkan di sana.

Kisah singkat perjuangan permesta

Permesta
(perjuangan semesta)
di minahasa.
perjuangan bersenjata untuk menuntut otonomi pemerataan pembangunan di daerah2, anti korupsi di pusat. Anti komunis, dan ada perwakilan pemerintah daerah d pusat.
Perang sudara yg menambah penderitaan rakyat sipil dan tentara..18 ribu lbih tentara pusat tewas d tanah minahasa dan 4 ribu lebih rakyat dan pejuang permesta.
Perjuangan yg berhasil dan berakhir damai.
Pengorbanan yg tak sia2, pembangunan merata tak pilih kasih di seluruh daerah2, ada otonomi,komunis d bendung dan tiap 5 tahun ada pemilu untuk DPD pusat.salut buat permesta.

Biar gunung soputan,klabat,lokon rata jadi tanah.dan danau tondano kering.kabinet juanda tak akan injak tanah minahasa.

Angkat sejarah d tanah minahasa
#melawan_lupa

Saturday, 2 June 2018

Datu Wuisang

Datu Wuisang disebut pula sebagai Ponto Wuisang yang berarti Yang Mulia Baginda Wuisan. Pada masa kedatuan, Wuisang tergolong datu yang berkuasa dalam tempo yang pendek, karena kekuasaan di tangannya dimulai pada usia yang sangat dewasa yaitu pada umur 40an tahun. Selaku kasili alias pangeran kedatuan Siau dari keturunan Posuma pada isteri pertama, Wuisang muda, sebelum menjadi datu, ia sering berlayar ke Pulau Sangihe.

Wuisang mempunyai kisah kasih yang sangat romantis dengan salah seorang putri raja di Pulau Sangihe. Kisah cintanya diawali dari perjalanannya dari Kedatuan Tahuna menuju Kedatuan Kolongan. Sore itu di sebuah sungai kecil, nampak terlihat beberapa orang gadis sedang mandi. Wuisang berdiri di atas pulangeng dan melambaikan tangannya ke arah gadis-gadis yang sedang mandi itu. Ternyata sungai kecil itu adalah tempat permandian Sangiang Pirambai. Sangiang adalah gelar yang disematkan kepada seorang puteri raja. Sangiang Pirambai ialah cucu dari Kulano Ratumbahe, sahabat dari Lokongbanua II.

Sejarah singkat pulau siau atau siouw

sejarah singkat pulau siau atau siouw.... berawal dari Cerita Yupung Sensemadunde yang sudah ada penduduk di pulo siouw....
Zaman dulu ada suami istri yaitu Mampholangi dan Utahaghi sudah lama belum punya anak dan dulu makanan utama adalah sagu dari rumbia  sehingga suatu saat Mampholangi menembang pohon rumbia dan tiba2 getah atau dalm bhasa sangihe sense keluar makin banyak namun alkhirnya bukan getah yg kluar namun seorang ank laki2 yg gagah perkasa...
Dinamakanlah anak itu Sense Madunde artinya anak yg berasal dari getah....
Keahlian yupung Sensemandunde adalah menyumpit burung dari kediaman berjalan sampe didaerah beong dan ada semerbak bau wangi sekali yang membuat Yupung sensemadunde mncari tau asal wewangian itu ternyata berasal dari 9 mata air yg berbentuk kolam.

Friday, 1 June 2018

Adolf Lembong

Kuba dan Argentina boleh bangga dengan Che Guevara. Dia bergerilya di dua negara. Indonesia sebetulnya punya sosok semacam Che. Jika membaca buku sejarah Indonesia, ada Adolf Lembong yang hanya dikenal sebagai korban keganasan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pimpinan bekas Kapten Westerling di Bandung. Masyarakat Indonesia belum mengenalnya sebagai seorang gerilyawan.
Nama Lembong kini dikenang sebagai nama jalan di kota Bandung. Letaknya tak jauh dari Jalan Braga. Dulunya jalan itu bernama Oudhospital Weg (Bld: jalan rumah sakit lama). Selama ini, cerita Lembong sebelum terbunuh di Bandung tak terdengar sama sekali. Masyarakat hanya tahu: Lembong korban APRA Westerling.
Beruntung, Lembong pernah menulis laporan gerilyanya selama di Filipina. Laporan itu diketik dalam bahasa Inggris. Laporan itu belakangan diarsipkan oleh intel Belanda, Netherland Forces Intelligence Service (NEFIS). Arsip ini bisa ditemukan di Arsip Nasional Belanda di Amsterdam. Judulnya, Laporan kegiatan gerilya Adolf Lembong (Letnan Satu LGAF USAFFE) Agustus 1943 hingga April 1945.
Fredrik Willem, sejarawan Belanda yang melakukan riset tentang Kapten Westerling, membuka arsip tersebut tahun lalu. Selain laporan ini, NEFIS juga mengkliping artikel tentang Adolf Lembong yang ditulis Arsenio Lucson dengan judul Inside Indonesia. Artikel ini dimuat surat kabar Manila Times ediisi 15 November 1948.
Aksi gerilya Lembong di Filipina, bagi Arsenio tak jauh beda dengan kisah-kisah dalam film laga buatan Hollywood. Karena itu, Arsenio menuliskan secara singkat kisah gerilya Lembong di Filipina dan keberpihakannya kepada Republik Indonesia.
Bukan Jago Kandang
Sebelum Abdul Haris Nasution menulis Pokok-pokok Gerilya, bahkan sebelum Nasution sendiri terlibat perang gerilya, Lembong sudah terlibat dalam perang gerilya di Filipina melawan Tentara fasis Jepang. Lembong sebenarnya tak pernah berniat pergi ke Filipina. Namun, perang pasifik membawanya ke sana.
Sebelum jadi tawanan Jepang, Adolf Gustaaf Lembong adalah operator radio KNIL dengan nomor registrasi 41642. Lembong asal Minahasa. Bersama kawan-kawannya yang ikut ditawan, Lembong dijadikan heiho (pembantu tentara).
Mereka dikirim dengan kapal ke dekat medan pertempuran Pasifik. Beberapa hari dia di Rabaul lalu di Luzon, Filipina. Setelah terjalin kontak dengan gerilyawan Filipina, Lembong dan sesama heiho, mereka kabur dari kamp Jepang. Lembong dan kawan-kawannya lalu bertemu gerilyawan Filipina dan tentara Amerika.
“Jangan berkecil hati. Milikilah harapan dan terus berjalan, dan jangan bertanya ke mana kita akan pergi! Waktunya akan datang dan tujuan kita akan tercapai,” kata perwira Amerika itu dalam bahasa Inggris. Hanya Lembong yang paham bahasa Inggris di antara para pelarian itu.
Berkali-kali rombongan itu bertemu tentara Jepang. Namun, komandan Amerika itu tak mau mengambil risiko, dan mencari jalan aman sekaligus menghindari kontak senjata. Tak jarang, Lembong dan kawan-kawan gerilyanya ditolong oleh orang-orang Filipina. Selama bergerilya pernah juga Lembong menyamar sebagai penduduk lokal Filipina. Dia memasuki desa atau kota di mana tentara Jepang juga berkeliaran. Pernah Lembong mengaku sebagai penjaga kampung pada serdadu Jepang yang memeriksanya. Lembong juga pernah menyamar menjadi kondektur kereta api.
Dengan mata agak sipit dan kulit putihnya, Lembong sering dikira sebagai orang Jepang. Dia bahkan nyaris terbunuh karane dikira mata-mata Jepang. Kepada orang-orang Filipina yang ditemui, Lembong tak ragu untuk jujur soal identitasnya.
“Saya Adolf Lembong bekas tentara Belanda,” aku Lembong pada orang-orang Filipina. Dan Lembong mulai di kenal sebagian orang Filipina. Dalam kondisi terjepit, Lembong pernah dipercaya untuk memimpin sebuah regu gerilya untuk sementara waktu.
Nama Lembong mulai diperhitungkan para gerilyawan di Filipina setelah terlibat adu tembak dengan serdadu Jepang. Lembong ikut merobohkan serdadu Jepang dengan tembakan-tembakannya. Ini adalah kontak senjata pertama Lembong selama di Filipina. Setelah kejadian itu, dia dipercaya oleh komandan gerilya Tentara Amerika, Kapten Robert Lapham, dari Tentara Amerika keenam di Filipina.
Lapham lalu memberi pangkat Letnan Dua pada Lembong. Jabatannya adalah instruktur lalu merangkap perwira intelijen. Beberapa bulan kemudian, dia diangkat sebagai komandan Squadran 270. Pasukannya adalah orang-orang Minahasa yang ikut kabur bersamanya ditambah beberapa orang Filipina.
Suatu kali, Lembong dan pasukannya hanya berdiam di markas saja. Tak ada perintah menyergap Jepang atau perintah lainnya. Tak banyak pekerjaan yang dilakukan Lembong di sekitar markas gerilya. Dia merasa tak bisa berdiam diri. Tanpa menunggu lama lagi, Lembong memanggil anak buahnya.
Lembong berniat menyergap serdadu Jepang yang melintasi di jalan negara. Sembilan gerilyawan, yang kesemuanya orang Manado bekas KNIL, ikut bersamanya. Pada 6 Januari 1945 mereka berangkat ke jalan negara San Leon. Mereka tak langsung bertemu rombongan serdadu Jepang.
Malam itu, terlebih dahulu mereka mengepung gedung pusat makanan dan peralatan Jepang. Mereka cukup beruntung. Gedung itu tak dijaga tentara Jepang. Mereka ambil semua bahan pakaian dan makanan dari gudang dan membagikannya kepada orang-orang.
“Kemenangan untuk semua,” teriak Lembong dan kawan-kawan.
Esok harinya, pada 7 Januari, mereka beraksi lagi. Sebuah truk berisi serdadu-serdadu Jepang, mereka sergap. Sebanyak 27 serdadu Jepang terbunuh dalam penyergapan itu. Tak ada satupun korban pun di pihak Lembong. Mereka hanya bersepuluh. Esok paginya mereka terlibat pertempuran lagi, sebelum akhirnya kembali ke markas gerilya.
Orang-orang Manado yang terlibat dalam penyergapan truk itu antara lain Alexander Rawoeng, Jan Pelle, Marcus Taroreh, Marthin Sulu, Alexander Kewas, Albert Mondong, Hendrik Terok, Andries Pacasi ,dan William Tantang.
Setelah Squadron 270 dibubarkan, Lembong dapat promosi pada 22 Januari 1945. Pangkatnya naik jadi Letnan Satu. Dia ditempatkan di Batalyon Pertama Infanteri APO 6, di bawah komando letnan Kolonel Francis Corbin sebagai komandan batalyon.
“Aku menyebutnya Crack battalion karena batalyon ini selalu berani berhadapan langsung dalam posisi tembak tentara Jepang,” kata Lembong. Mereka terus bergerak bahkan maju meskipun ada tembakan senapan mesin, artileri juga sniper dari tentara Jepang.
Di Filipina, di masa-masa gerilya, Lembong bertemu jodohnya. Ia adalah seorang gerilyawan wanita Filipina yang sering membantu gerilyawan Minahasa. Asuncion Angel atau Cion namanya, asli Pangasinan, Filipina. Cion dinikahi Lembong 26 Oktober 1944. Belakangan, Cion setia menemani perjuangan Lembong, bahkan ikut pulang ke Indonesia.
Membebaskan Indonesia
Jelang menyerahnya Jepang, Lembong keluar dari kelompok gerilya di Filipina. Dia tetap ingat kampungnya di Amurang, Sulawesi Utara, yang masih di duduki Jepang. Lembong pun mengajukan proposal ke militer sekutu. Sekitar Juli 1945, Lembong mengusulkan sebuah penyusupan ke Sulawesi Utara.
“Jika aku jadi diterjunkan ke Minahasa dengan tujuan mengorganisasian kekuatan gerilya, aku akan mengambil beberapa orang dari beberapa distrik berbeda di Minahasa untuk ikut bergerilya bersamaku. Distrik-distrik itu adalah: Manado, Tondano, Tonsea, Tomohon, Kawangkoan dan lainnya,” usul Lembong.
Lembong berencana melibatkan kawan-kawan Manado eks KNIL yang ikut gerilya di Filipina. Mereka akan dimasukan dalam tim klandestin ke Sulawesi Utara untuk mengorganisir kekuatan gerilya anti Jepang. Dalam rencana Lembong, setelah daerah Minahasa dibebaskan, setelahnya adalah Gorontalo.
“Tim akan masuk ke Minahasa dengan tidak bersenjata dan disamarkan sebagai orang sipil biasa, orang-orangku setelah mendarat akan pergi ke kampung halaman untuk memantau situasi saat itu, menghubungi orang-orang sipil lain yang mau sukarela bergabung dengan gerilya KNL,” usulnya lagi.
Dalam usulannya, Lembong juga minta dibekali senjata api, radio, granat tangan dan logistik lainnya. Namun, rencana gerilya ini nampaknya tak terlaksana. Lembong segera bertemu dengan perwira KNIL di Filipina. Setelah melaporkan diri, dia jadi KNIL Belanda sebagai Letnan.
“Januari 1947, Belanda kembali ke Hindia dengan memboncengi pasukan sekutu Inggris, Lembong diperintahkan kembali ke Batavia,” tulis Arsenio Lucson dalam Inside Indonesia, yang dimuat di Manila Times 15 November 1948.
Hingga Juli 1947, Lembong masih sebagai Letnan KNIL. Lembong baru bergabung dengan Republik justru setelah beberapa wilayah Republik diduduki Tentara Belanda di bawah komando Letnan Jenderal Spoor dalam operasi produk yang oleh pihak Belanda disebut Aksi Polisionil pertama, dan pihak Indonesia menyebutnya Agresi Militer Belanda pertama.
“21 Juli 1947, ketika tentara Belanda melanggar Kesepakatan Linggarjati, menyerang wilayah Republik Indonesia, Lembong menyeberang dan melawan Agresor Belanda mempertahankan Ibu Pertiwi tanah airnya,” tulis Arsenio Lucson.
Paruh kedua tahun 1948, Arsenio, yang bekas gerilyawan Filipina dan belakangan pernah jadi walikota Manila itu, mengunjungi Lembong di Yogyakarta. Lembong sudah bergabung dengan militer Republik yang sudah bernama Tentara Nasional Indonesia (TNI).
“Sekarang, Adolf Lembong, salah satu Letnan gerilya Filipina, memegang komando sebuah Brigade Tentara Indoneisa, menanjak dari Kapten ke Mayor lalu ke Letnan Kolonel. Seperti Tentara Republik Indonesia yang lain, satuan-satuan seperti brigade berisikan anak-anak muda, veteran yang teruji dalam pertempuran sulit, ahli tehnik peperangan gerilya,” tulis Arsenio.
Pada Arsenio, Lembong mengaku sedih. TNI tak cukup senjata. Ada bermacam-macam senjata dari berbagai jenis yang dimiliki TNI. Mulai dari buatan Jepang, Inggris kadang Amerika. Diantaranya rampasan dari Tentara Belanda.
“Kami hanya tentara miskin. Tetapi jika Belanda menyerang kami, kami akan bertempur. Kami akan memecah dalam kelompok kecil. Tak ada komunikasi teratur, melakukan sabotase dan taktik bumi hangus. Kami akan membuat mereka merasakan apa yang Balatentara Jepang rasakan di Filipina,“ kata Lembong pada Arsenio.
Lembong sudah siap mempertaruhkan hidupnya untuk Indonesia. Dia sudah meninggalkan kehidupan mapan dan bergaji lumayan bagus sebagai Letnan KNIL.
Rupanya, Cion tak ketinggalan. Dia mau hidup susah sebagai gerilyawan lagi. Dia setia bersama Lembong di Yogya. Mereka sudah punya Adolf Lembong Junior. Ketika Cion ditanya apa yang akan dia lakukan jika Belanda menyerang dan perang pecah lagi, Cion punya jawaban yang heroik.
“Aku akan bersama suamiku ketika perang tiba, jika perlu aku harus jadi gerilyawan lagi,” jawab Cion.
Sialnya, Lembong punya kolega militer yang susah diatur macam Kahar Muzakkar. Sekitar September 1948, Kahar Muzakkar bahkan memerintahkan kompi Masud untuk menangkap Letnan Kolonel Lembong di Markas Brigade di sekitar Sayidan, Yogyakarta. Lembong dan stafnya dibawa penculik ke Klaten. Kapten Vintje Sumual pun bergerak membebaskan komandannya. Berkat campur-tangan Presiden Republik, Soekarno, ketegangan mereda. Lembong akhirnya dilepaskan.
Tanggal 28 November 1948, Lembong digantikan Joop Warouw sebagai Komandan Brigade. Lembong tak punya pasukan lagi. Dia ditempatkan sebagai perwira staf di Markas Besar Tentara. Sempat direncanakan Lembong akan dijadikan Atase militer Indonesia di Filipina, dengan Sam Ratulangi sebagai duta besarnya. Di Filipina, Lembong akan mengorganisir pembebasan Sulawesi Utara dari pendudukan tentara Belanda lewat Filipina.
Rencana itu tak kunjung terwujud. Pada 19 Desember 1948, tentara Belanda menyerang Yogyakarta yang menjadi ibukota Republik Indonesia. Para pejabat tinggi Republik termasuk Soekarno, Hatta, Agus Salim dan lainnya juga ditawan. Semula, Lembong yang tak punya komando pasukan juga ingin gerilya. Namun Vintje Sumul yang sudah jadi mayor menghalanginya.
“Kamu di sini saja. Tak perlu ikut kami mundur ke kampung,” kata Sumual.
“Kenapa saya tak boleh ikut? Kita ini tentara!”
“Sudahlah, ikuti saja saya punya nasehat,” paksa Sumual.
Lembong tak bisa apa-apa hari itu. Dia menuruti kata Sumual dan bertahan di dalam kota Yogyakarta. Suatu hari Lembong kena razia. Dia ditangkap dan ditawan di Ambarawa. Lembong baru bebas setelah perjanjian gencatan senjata Roem-Rojen.
Setelah Pengembalian Kedaulatan, Lembong gabung lagi ke TNI. Awal tahun 1950, Lembong ditugasi membangun pusat pendidikan militer di Bandung. Itulah kenapa pada pagi 23 Januari 1950 Lembong berangkat ke Markas Divisi Siliwangi di dekat jalan Braga Bandung.
Lembong, bersama Kapten Leo Kailalo, sedari pagi sudah ke dalam markas. Penjagaan di sana tidak kuat. Baik Lembong dan Leo, tak menduga adanya KNIL-KNIL yang mengamuk. Karena perang sudah lewat.
Tanpa diduga, KNIL-KNIL bersenjata api yang mengamuk itu sudah mengepung markas Divisi. Semua TNI yang mereka temui ditembaki hingga mati. Tak peduli bersenjata atau tidak. Desingan peluru di luar markas membuat Lembong dan Leo mencari tahu asal letusan senjata itu. Mereka berani ke luar karena tidak menduga ada KNIL-KNIL yang mengamuk.
Melihat ada seorang Letnan Kolonel TNI di depan mata, KNIL-KNIL yang mangamuk dan luar biasa benci pada TNI/APRIS, tentu serasa beroleh hewan buruan. Picu ditarik dan berondongan pelurunya membunuh Lembong dan Leo hingga bersimbah darah. Setelahnya, tanpa dosa, KNIL-KNIL itu kembali ke tangsinya lagi.
Belakangan, markas divisi Siliwangi belakangan jadi Museum Mandala Wangsit. Agar keganasan APRA Westerling, yang dicap profederalis itu tak dilupakan masyarakat, maka pemerintah Republik Indonesia menamakan jalan di depan Museum Mandala Wangsit itu sebagai Jalan Lembong

Foto: Adolf Lolong di kanan dan Joop Warouw di kiri

Perang Tondano Ketiga (1808-09)

Posisi Minahasa di masa Perang Napoleon hingga Perang Tondano Ketiga
Perang Napoleon di Eropa berdampak di gugusan Nusantara Karena waktu itu, kelompok Republik di Negeri Belanda yang mendukung rezim Prancis menduduki Negeri Belanda, sementara para Stadshouders yang memimpin Negeri Belanda melarikan diri ke Inggris yang menjadi penentang terbesar Napoleon Bonaparte yang menguasai daratan Eropa.
Konflik di Eropa terasa pula di Minahasa ketika pada 1801 sebuah kapal perang Inggris muncul di Teluk Manado dan merapat di pelabuhan.
Pihak nakhoda Inggris dan langsung menemui Residen Manado, George Fredrik Durr. Oleh nakhoda Inggris, Durr dipaksa untuk tidak mengakui persekutuan Prancis-Belanda dan harus berada dibawah kepemimpinan Inggris.
Alih pemerintahan dari Belanda ke Inggris tidak begitu dirasakan penduduk Manado waktu itu, karena tidak mengambil perduli apakah itu Belanda ataupun Inggris, tetapi tetap dilihat sama-sama “orang bule.” Sementara para pegawai VOC yang sudah di bubarkan tepat pada 31 Desember 1799, masih tetap di gunakan untuk mengisi kevakuman pemerintahan di Hindia-Timur, termasuk di Minahasa.
Alih pemerintahan ini disesuaikan menurut Perjanjian Amiens pada 1802 dimana semua wilayah koloni Belanda berada dibawah pengawasan Inggris dan semua pegawai Belanda akan tetap digunakan bila berpihak kepada Inggris.
Pada peralihan ini, Durr yang menjabat sebagai Residen Manado sejak 1791 diperpanjang selama setahun. Ia kemudian digantikan oleh Carel Crisoph Prediger Jr pada 1803.
Tetapi tak lama setelah menduduki jabatan ini, Prediger mendapati banyak penyimpangan yang telah dilakukan oleh Durr di masa jabatannya hingga Durr tidak disenangi dan di benci oleh para pemuka Minahasa, terutama dari Tondano.
Yang tidak dapat diterima oleh para Walak Minahasa ketika Durr merombak ikatan persahabatan VOC-Minahasa 10 Januari 1679 hasil rintisan Robertus Padtbrugge hampir 125 tahun lalu. Durr merubahnya dengan menempatkan Belanda sebagai supremasi Belanda yang lebih tinggi dari orang Minahasa. Sementara para Walak tetap menempatkan Perjanjian Verbond itu sebagai pegangan.
Namun keadaan berubah setelah terjadi pembubaran VOC dan daerah-daerah terpencil tidak menjadi perhatian dari alih pemerintahan di Batavia menimbulkan raja-raja kecil seperti yang dilakukan oleh George Durr dengan berbagai aturan yang tidak disenangi penduduk. Misalnya dengan pengadaan berbagai denda yang dilakukan untuk residen dari para penilik dan juru-jurubahasa. George Durr pernah menangkap Kepala Walak dari Tondano-Toulimambot, yaitu Dotu Pangalila oleh intrik yang dilakukan oleh kaki-tangan Durr. Sebenarnya Pangalila adalah pemimpin yang tegas dan membela masyarakat Tondano di bawah wilayahnya. Tetapi kepemimpinan Pangalila tidak disenangi Durr, hingga ia mencari kesalahan Pangalila yang di jebak oleh kaki-tangannya.
Akibatnya Pangalila pada 1792 di tangkap dan langsung di buang ke Ternate dan meninggal disana. Peristiwa ini membekas kalangan masyarakat Tondano hingga citra Belanda di Minahasa menurun tajam.
Residen Wenzel dari Manado pada 1825 pernah berkomentar pada era pemerintahan George Durr:: “Seorang Minahasa pernah mengatakan: “Perlakuan petugas-petguas Kompeni pada kami begitu rupa, sehingga kami lebih suka melihat kedatangan perompak Mindanao, dari pada seorang petugas Kompani. Bila perompak datang, kami dapat menyembunyikan harta kami dan kami bersembunyi. Tetapi bila petugas Kompeni datang, kami harus menjemput mereka. Malahan harus pula menyerahkan semua harta benda kami pada mereka.””
Tetapi dengan Walak Tondano tidak dapat dilakukan oleh George Durr. Untuk itulah hingga ia sangat membenci orang-orang Tondano, antara lain kepala Walak Tondano-Toulimambot, Dotu Janes Dotulong yang menggantikan Dotu Sumondak. Untuk memperbaiki citra Belanda pada masyarakat Minahasa, Prediger pada 16 September 1803 mengumpulkan para Walak Minahasa dan semua lembaga instansi pemerintah di Fort Amsterdam, untuk membuat kontrak baru. Di tempat itu dibuat kontrak perjanjian baru dengan mengatas namakan Gubernur di Maluku, Petrus Adrianus Goldbach, dengan tembusan kepada Gubernur-Jendral Johannes Sieber dan semua pimpinan lembaga eksekutif dan legislative di Batavia.
Kontrak yang baru ini dilakukan saat Negeri Belanda di kuasai sepenuhnya oleh Prancis yang ternyata mendapat dukungan pula dari orang-orang Belanda yang berada di tampuk pemerintahan di Batavia. Untuk itu kontrak itu dilakukan Prediger untuk memperoleh dukungan dari Minahasa untut tetap setia kepada Belanda.
Hubungan Belanda-Minahasa meruncing
Dalam salah satu butir dari isi kontrak baru itu berbunyi: “...Kami berjanji dan bersumpah, dengan menanggap bahwa kontrak yang pernah diuat dengan Inggris (pada 1802), tidak berlaku dan tidak mempunyai arti apa-apa lagi. Dengan demikian Kompeni merupakan Tuan dan Atasan kami yang sah, dan kami nyatakan kembali sebagai kawan yang baik.”
Kontrak perjanjian itu hanya di tanda tangani sendiri oleh Prediger secara sepihk, sementara para Walak yang berkumpul di benteng itu hanya diam saja. Peristiwa itu sama sekali tidak memperbaiki keadaan. Para Walak kecewa, karena Perjanjian Verbond 1679 peninggalan Padtbrugge telah di gusur oleh Predige. Padahal dalam perjanjian itu, juga dikatakan Belanda akan membantu keamanan Belanda. Ternyata di abaikan oleh Predigge. Penduduk di pantai-pantai Manado dan Kema sering menjadi korban penjarahan dari bajak-laut asal Mangindanow (Mindanao).
Pasukan-pasukan Ternate yang bertugas menjaga keamanan selalu menghindar untuk bertempur bila pesisir pantai Minahasa diserbu bajak-laut itu. Untuk itu para Walak Minahasa menuntut untuk dipersenjatai, tetapi selalu di tolak oleh Predigger.
Di lain pihak Prediger tak mau berkonfrontasi, karena akan merugikan pihaknya yang memerlukan beras dari pedalaman Minahasa, terutama dari Tondano untuk logistik menunjang tentara Belanda di kepulauan Maluku dan Makassar. Karena kepentingan penduduk Minahasa sering di abaikan, hingga pemasukan beras dari pedalaman mulai macet dan kebencian penduduk Minahasa terhadap Belanda kian meningkat. Untuk itu hubungan dengan Inggris yang menjadi lawan pemerintah Belanda di Manado, mulai terjalin dengan penduduk setempat.
Pada awal Juli 1806 tiba-tiba muncul 2 kapal perang Inggris di Teluk Manado pimpinan Kapten Charles Elphinstone. Setelah membakar sebuah kapal Belanda, Elphinstone kemudian mengirim surat ultimatum kepada Residen Predigger untuk menyerahkan Fort Amsterdam. Tetapi Prediger menolak melalui jawabannya: “Sebenarnya kami tidak wajib membalas surat tuan. Tulisan ini hanya merupakan pernyataan sesuai kewajiban yang harus saya lakukan. Tuan dipersilahkan melakukan sikap permusuhan dengan kami. Tetapi kami selalu siap untuk mempertahankan diri, karena sebagai seorang Batavia, sama sekali tidak gentar terhadap ancaman apapun.”
Elphinstone tidak melayani, tetapi sebenarnya Inggris sudah menjalin hubungan dengan Walak Tondano-Touliang di Atep, pantai timur Minahasa berada di wilayah Walak itu, yang sudah menjadi pusat perdagangan dengan dunia luar. Di Atep sering terjadi tukar-menukar senjata Inggris dengan beras dan komoditi lainnya dam beredar di Minahasa. Minahasa ternyata juga menjadi perhatian Inggris karena dikenal sebagai lumbung beras.
Usaha Daendels merekrut Pemuda Minahasa Mempertahankan Jawa
Ketika Negeri Belanda dikuasai sepenuhnya oleh Prancis, dan Kaisar Napoleon Bonaparte mengangkat abangnya, Lodewijk Napoleon, perhatianpun tertuju di Hindia-Belanda yang potensial dan harus dipertahankan.
Untuk itu R J Schimmelpenninck sebagai kepala pemerintah Repbulik Belanda mengangkat Herman Daendels sebagai Gubernur-Jendral Belanda di Batavia menggantikan Albertus Henricus Wiese. Karena kepemimpinan mantan ketua Raad van Indie di nilai sangat lemah, sedangkan yang diperlukan waktu itu adalah pemimpin yang keras, berwibawa dan tegas. Untuk itu dimiliki oleh Daendels, seorang perwira tulen yang misi utamanya mempertahankan Jawa dari ancaman serbuan Inggris.
Untuk mempertahankan Jawa, Daendels memerlukan 20.000 prajurit, dan berusaha melakukan perekrutan tidak hanya dari Jawa, tetapi juga dari berbagai suku ethnis lainnya, dan dari Minahasa tanpa kecuali.
Untuk itu, Kapten Frans Willem Harting di utus ke Manado dan menemui residen Padrigge mekaksanakan instruksi Marsekal Daendels merekrut 2.000 pemuda Minahasa untuk dikirim ke Tanah Jawa. Untuk merealisasi program ini, Prediger mendekati para pemuka Minahasa. Rencana pertemuan tidak dilakukan di Fort Amsterdam, tetapi harus di luar kota, karena para Walak sudah tidak percaya kalau dilakukan di Fort Amsterdam.
Pada 10 Mei 1808 berlangsung pertemuan di Airmadidi (Tounsea), dengan residen Carel Prediger Jr. yang atas perintah Marsekal Daendels menjadi organisator. Ia di dampingi Kapten Frans Willem Harting menerima wakil-wakil dari 18 Walak. Saat itu di Minaesa terdapat 27 Walak. Ternyata sepertiga tidak hadir. Mereka terdiri dari Walak-walak dari: 1. Kakas, 2.Langowan, 3. Tompaso, 4. Kawangkoan, 5.Sonder, 6.Tounsawang, 7.Pasan, 8.Ratahan dan 9.Ponosakan.
Prediger kecewa berat, karena yang hadir tidak sesuai harapan, dan banyak Ukung dan Kepala Walak tidak hadir hingga ditunda. Pada keesokan hari di pembukaan pertemuan, yang hadir itu-itu juga.
Karena kesal, Prediger memutuskan untuk menunda pertemuan pada 20 Mei. Dalam rapat yang kedua, 20 Mei 1808, ternyata penerimaan calon tentara di Todano tidak berlangsung seperti yang diharapkan. Untuk itu Prediger melanjutkan pertemuan itu menjadi sah dan menganggap mereka yang hadir sebagai waktil-wakil yang absen. Pada pertemuan itu, Prediger berusaha meyakinkan para peserta mengenai kegunaan pengiriman pasukan ke Jawa dengan ikatan dinas selama 5 tahun. Ia kemukakan bahwa pada pengiriman itu akan menempatkan pemuda-pemuda Minahasa sebagai prajurit-prajurit tangguh, yang kelak menggantikan posisi orang-orang Ternate. Disamping itu, mereka yang dikirim akan mendapat uang dan bahan pakaian menjelang keberangkatan. Kendati Prediger terlalu yakin bahwa usulannya itu akan disetujui oleh hadirin, namun tidak sadar bahwa isi pertemuan itu akan dilaporkan dan diperbincangkan lagi dalam musyawarah antar Walak sesuai ketentuan adat yang tak dapat diganggu gugat siapapun. Beberapa hari kemudian pihak Fort Amsterdam di Manado mendapat jawaban resmi dari para Walak yang menolak keputusan Airmadidi. Prediger tidak berhasil meyakinkan para Walak yang selama ini di bohongi terus, dan Misi Harting gagal merekrut pemuda Minahasa. Bahkan keadaan menjadi fatal, karena sepuluh hari kemudian Fort Amsterdam di serang. Hartingpun kembali ke Jawa dengan tangan kosong.
Perang Tondano berulang
Pada 30 Mei 1808 prajurit-prajurit dari Tondano berada disekitar benteng Amsterdam, dan menyerbu benteng tersebut. Di malam hari dibagian selatan, beberapa prajurit berusaha merebut meriam yang berada disitu, berhasil mereka bawa pulang dan ditempatkan di Toudano-Bawah pimpinan Walak Kilapong. Penghuni tempat ini adalah bekas pelarian perang Tondano kedua.
Pada bulan Nopember 1808 kembali berkobar Perang Toudano melawan Belanda untuk ketiga kalinya. Sebagai Panglima-Panglima Perang (Teterusan) ditunjuk Sarapung dan Korengkeng dan juga terdapat Item. Suku Tondano kembali di dukung Kakas dan Remboken, Waktu itu walak-walak Toumbariri, Kakaskasen dan Ares (ketiganya dari suku Tombulu) akan turut membantu. Tetapi begitu pertempuran mulai berjalan, ketiga Walak ini tidak nampak. Walau begitu, suku Tondano tidak melupakan “ikrar bersama” yang dicetuskan di masa lampau yang melahirkan “SUMPAH PERSATUAN” (Perang Kedua antara Malesung/Minaesa versus Bolaang-Mongondouw mengenai SUMPAH ini).
Setiap kali pejuang-pejuang Toundano akan melepaskan tembakan terdengar suara nyaring dari dalam kubuh pertahanan “kumuru.. è .. sè Kawanua!” (berjongkok hai kaum senegeri) Musuh suku asing tidak menyadari bahwa ini adalah aba-aba bagi orang Minaesa yang telah ikut serta membantu Belanda, sehingga korban pada orang Minaesa hampir tiada.
Selang seling terdengar pula teriakan berkukuk bila ada musuh yang rebah, yang sering kali terjadi. Pula bila ada musuh yang berada dekat kubuh pertahanan terdengar teriakan Iayat n Santi (angkat pedang) di mana pejuang-pejuang berloncatan menghadapi musuh dengan pedang terhunus serta setiap kali bila terdengar ucapan .. sayow.. (potong) berarti kepala musuh terlepas dari tubuhnya.
Pertahanan suku Toundano hanya dapat didekati dari satu jurusan yaitu arah Barat di daratan. Sehingga tentara belanda yang dibantu “gerombolan penolong” dari Ternate, Ambon dan Bolaang-Mongondouw terpukul mundur. Pemimpin pasukan Belanda bersama konco-konconya adalah residen Prediger yang tertembak pada bagian kepala sehingga harus dibawa pergi untuk dirawat.
Penggantinya adalah Kapten tentara Lodewijk Weintre yang mendatangkan “Kora-Kora” dengan persenjataan meriam dari Belang (sebelah Timur Minaesa di Laut Maluku) dan pula dari Tanawangko (sebelah Barat Minaesa di Laut Sulawesi) melalui pegunungan dengan cara memikul ke danau Toundano. (hal serupa terjadi pad Perang Toundano kedua) Baru dengan cara ini Kapten L. Weintre memenangkan peperangan; tapi setelah berkali-kali dipukul mundur oleh prajurit-prajurit Minaesa di mana banyak dari “pasukan tetap maupun gerombolan penolong” yang terbunuh di danau Tondano. Kebanyakan dari mereka tertikam oleh laskar-laskar Tondano yang sambil berenang dengan bersenjatakan doum (sosoroka: yaitu jenis tombak pendek bermata banyak) menyerang musuh.
Beberapa “Kora-Kora” ditenggelamkan; tidak percuma nama mereka Orang-air (Tou-dano). Memang diair mereka sangat gesit, musuh susah melihat mereka, bila ada musuh di air “tamatlah riwayatnya”.
Akan tetapi bagi pejuang-pejuang Tondano mesiu yang dimiliki semakin menipis sedangkan musuh hampir siang-malam terus menghujani kubuh pertahanan dengan peluru-peluru meriam dari darat maupun dari atas “Kora-Kora” di danau.
Selang berlangsung peperangan suku Tondano dibekali oleh sesama suku asal Tourikeran, walaupun penjagaan musuh sangat ketat sekitar daerah tersebut.
Karena peperangan telah berlangsung berbulan-bulan, dimana “laskar bantuan musuh” sendiri mengalami kekurangan makanan, sehingga apa saja yang ditemui dimakannya; menjadi sulit untuk membekali suku Toundano, malahan menjelang saat-saat terackhir perbekalan terputus samasekali. Pemimpin-Pemimpin pertahanan memutuskan untuk menyingkirkan keluarga-keluarga sisa-sisa pertempuran, tua dan muda, agar suku Toundano jangan sampai punah. Dari “tua-tua” suku telah didengar bagaimana bengis laskar-bantuan ini dalam peperangan yang lampau. Dibawah pimpinan dotu Matulandi, malam sebelum jatuhnya Toundano, dalam kegelapan mereka meninggalkan tempat tersebut. Sambil menggunakan lodei (sampan) menuju negeri Kakas yang terletak pada bagian Selatan danau. Berdekatan dengan negeri ini mereka bangun perkampungan dengan nama Touliang (yang sampai sekarang masih ada). Dari sini kemudian mereka berpindah ketempat dekat Toudano di mana didirikan desa Touliang-Oki.
Sebelum Toundano mereka tinggalkan terlebih dahulu segala sesuatu yang tak terbawa dihancurkan, sehingga ketika dikuasai musuh mereka menemukan negeri yang kosong. Tidak ada sesuatupun yang dapat mereka sebut “perampasan perang”. Ini membuat musuh menjadi kalap sehingga seluruh rumah-rumah diobrak-abrik kemudian dibakar habis. Toundano diratakan dengan tanah, lebih tepat “diratakan dengan air”. Pada waktu subuh haribulan 04 Agustus 1809 terdengar tembakan penghabisan dari dalam kubu pertahanan; di mana kemudian pemenang memasuki Toundano. Mereka menemukan hanya tubuh-tubuh yang tidak bernyawa lagi, pria maupun wanita, yang gugur sebagai “bunga bangsa”, di antaranya terdapat Panglima/Teterusan Sarapung dan Korengkeng. Peperangan ini telah memakan waktu sembilan bulan lebih: dari bulan November 1808 sampai tanggal 04 Agustus 1809 dinihari. Kapten Lodewijk Weintre yang memimpin pasukan Belanda dalam perang Tondano ini, menulis surat kepada Marinus Balfour, Residen Manado di awal bulan Agustus 1809: “5-7 Agustus 1809… Temanku Balfour, Tondano telah mengalami nasibnya yang naas pada tengah malam. Seluruh Tondano telah menjadi lautan api. Aku harapkan tidak ada sisa lagi dari Tondano ini. Mereka yang tidak sempat menyingkir itu terdiri dari orang tua yang sakit, wanita dan anak-anak. Mereka yang selamat dari amukan api, dihabiskan nyawanya oleh anggota-anggota pasukanku….yang penuh dengki dan haus darah, ingin membalas kematian rekan-rekannya yang tewas dalam pertempuran sebelumnya karena muntahan peluru orang-orang Tondano. Saat menulis laporan ini, Tondano sudah menjadi tumpukan debu dan sama sekali hancur. Sehari setelah kemenangan kami, aku memerintahkan distrik-distrik (pakasaan-pakasaan) lain di Minahasa untuk membawa masing-masing 200 orang agar dapat membantu menhancurkan apa yang masih tersisa dan belum ditelan api, seperti kanon-kanon, tiang-tiang palisade yang terpancang di sekeliling kubu pertahanan mereka. Segala sesuatu, termasuk pepohonan, waruga-waruga aku suruh hancurkan agar kelak tidak akan kelihatan bekas bahwa ditempat ini pernah ada pemukiman orang-orang Tondano. Alasanku melibatkan pakasaan-pakasaan dalam penghancuran sisa-sisa perkampungan orang Tondano ini, adalah untuk memperingatkan mereka di Minahasa akan nasib yang akan mereka alami bila berani menentang kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Senjata-senjata yang dapat disita masih kurang banyak. Dan aku duga orang-orang Tondano telah menengelamkannya di danau. Selanjutnya aku akan mengejar pemimpin-pemimpin mereka yang sempat mengundurkan diri kehutan-hutan di sekitar Kapataran….”
Mariuns Balfour kemudian meneruskan laporan tersebut kepada atasannya Gezaghebber de Moluccas Rudolf Coop A Groen di Ternate: “ 9 Agustus 1809 … Orang-orang Tondano yang congkak dan angkuh itu akhirnya dapat kita taklukkan. Pada malam tanggal 4 menjelang 5 Agustus 1809, kira-kira tengah malam, dimulailah serangan yang telah lama disiapkan ke arah pusat pertahanan orang-orang Tondano. Penyerangan dipimpin Kapten Weintre dengan pasukannya. Setelah pasukan penyerang berhasil memasuki perkampungan orang Tondano, mereka mulai membakar rumah-rumah, dan segala sesuatu yang mereka temukan. Api yang menyala itu dipantulkan air danau, dan dapat dilihat dari jauh dari atas tembok-tembok di Fort Amsterdam. (dikutip dari Eddy Mambu, SH, kutipan dari Bundel Ternate No. 116 Arsip Nasional dalam makalah “Pantang Mundur, Perang Tondano 1808-1809”, YKM Jakarta, 1986).
Laporan Weintre, alumnus Akademi Militer Breda negeri Belanda tersebut bukan puisi, imajinasi atau ilusi. Laporan Weintre adalah laporan resmi militer dari pihak musuh Minahasa. Yakni tentang bagaimana Minawanua-pemukiman orang-orang Tondano tempo dulu yang dikelililingi benteng-benteng (moraya) di atas delta yang menyumbat air danau menuju hulu sungai Temberan-dijadikan ladang pembantaian (killing fields) rakyat Minahasa oleh Belanda.
Pembantaian yang menjadi klimaks sekaligus mengakhiri perang Tondano (1808-1809). Tragedi yang hanya mungkin dialami oleh suatu komunitas yang memilik tradisi pantang menyerah. Tradisi melawan dan musnah ketimbang tunduk kepada musuh. Treadisi yang oleh Belanda dianggap congkak dan angkuh, tapi bagi zaman kita adalah tradisi jiwa dan semangat kepahlawanan yang setiap 10 November diperingati sebagai hari pahlawan. Seandainya saja Minahasa saat itu tak lebih dari sekumpulan pengecut dan pecundang, niscaya tidak akan ada pengorbanan dan klimaks pembantaian sebagaimana dilaporkan Kapten Weintre. Akibat dari peperangan ini, Belanda tidak ingin lagi Walak Toundano dikepalai Suku asal Tondano. Mereka menunjuk Jacob Supit dari suku Tombulu sebagai Kepala Walak tersebut.
Minahasa di masa Inggris
Pasukan belanda semenjak Perang Tondano ini berada dalam keadaan lemah dan ketika Inggris, untuk keduakalinya, muncul didepan pelabuhan Manado selesai sudah dengan kekuasaan Belanda. Inggris memberikan pada suku Tondano yang telah terpencar dimana-mana di tanah Minaesa “amnesty abolisi” (pembatalan serta penghapusan hukuman) serta menugaskan mereka untuk membangun kembali negeri yang baru, arah lebih ke bawah pada kedua belah sisi sungai Temberan (Belanda menyebutnya “Tondano-rivier”= sungai Tondano). Sebelah Barat sungai diperuntukkan bagi TOUNDANO-TOULIANG; Sebelah Timur sungai diperuntukkan bagi TOUNDANO-TOULIMAMBOT. Kedua negeri ini selesai dibangun dalam tahun 1811. Oleh Inggris Jacob Supit diberhentikan sebagai Kepala Walak dan rakyat memilih sebagai Kepala Walak Toundano-Toulimambot, dotu Janes Abraham Dotulong, dan bagi Walak Toundano-Touliang, dotu Matulandi selaku Kepala Walak dari tahun 1810 sampai tahun 1820.
Waktu negeri Kembuan (sekarang Tonsea-Lama) masih menjadi Negeri-Induk suku Tonsea, mereka mendiami bagian sebelah Timur sungai Temberan, dari Air-Terjun hingga danau Toundano. Dengan demikian dotu Janes/Danes A Dotulong sampai tahun 1829 menjabat Kepala Walak dari Tondano-Toulimambot bergantian dengan suku asal Tondano.
Setelah berlalu kepemerintahan Inggris yang telah bermukim di Minaesa dari tahun 1810 sampai 21 April 1817, Belanda berusaha agar dotu Matulandi, yang terlibat perang terakhir sebagai salahsatu pemimpin, dapat diganti. Baru kurang lebih dua setengah tahun merekapun berhasil dalam “usaha” ini. Ia diganti oleh Tangka; dengan sertamerta suku Tondano memprotes. Cara penunjukkan telah melanggar “adat kebiasaan”; terkejut juga Belanda dan untuk meredakan suasana mereka menunjuk Emor sebagai pengganti. Tetap diprotes cara “penunjukkan” . Adat Kebiasaan ta dapat diabaikan! Telak juga protes ini, akan tetapi untuk menerima seorang Kepala Walak dari keturunan Gerungan, bagi Pemerintah Belanda adalah sulit, mengingat keluarga ini selalu berada dalam kepemimpinan dalam peperangan melawan Belanda. Malapetaka yang Belanda alami dalam perang terackhir masih membekas dalam ingatan mereka tetapi demi bahan pangan utama yaitu “padi” sangat dibutuhkannya, keinginan rakyat dituruti. Tetapi Dotu Matulandi sendiri tidak bersedia lagi karena umur telah lanjut, maka oleh rakyat dipilih dotu Boèng Ratumbuisang selaku Kepala Walak sampai tahun 1850.
Baru pada awal abad ke-20 Belanda dapat mengendalikan pulau Sulawesi. Inipun terjadi pada masa kepemimpinan Gubernur-Jendral Johannes van Heutz, Jendral yang haus perang menyatukan gugusan Nusantara dengan konsep “Korte Verklaring” mewujudkan “Takluk Batavia.” Konsep ini menjadi awal dari sistem pemerintahan sentralisme di kawasan Zamrut Khatulistiwa ini

Tambahkan saya sebagai kontak di YouTube. https://youtu.be/addme/lIZJeoUWxYfOcWnlAIe9KWcHbZRGcw

Kawasaran Negeri Warembungan

Kawasaran adalah tari perang suku bangsa minahasa.
Kawasaran berasal dari kata;
kawak yg berarti melindungi
Dan Asaran yg berarti berlaku seperti.
Kawasaran berarti berlaku seperti leluhur menjadi pelindung negeri, penjaga tradisi.
Kawasaran di negeri Warembungan adalah seni perang warisan dari para leluhur pelindung negeri.
Negeri Warembungan didirikan pada awal tahun 1800an oleh empat Dotu, yakni; Rori(Wali'an/Pemimpin Up.Adat), Tinus(Mahpu'pu'iz/Waraney/Pelindung Negeri), Mantororing dan Tamandatu.
Sejarah kawasaran diNegeri Warembungan tidak lepas dari peran para mahpu'pu'iz/Waraney/pelindung negeri/pengambil kepala musuh.
Ketika peperangan melawan Wantik dan mangindano mulai mereda pada akhir 1800an, maka pengetahuan perang para Waraney disimpan dlm bentuk seni, yakni seni kawasaran.
Pada perkembangannya kawasaran menjadi seni tari tanpa meninggalkan tradisi lama kecuali bagian mamuiz(mengambil kepala musuh).
Para waraney Pemimpin dan pemain kawasaran masih terikat hubungan darah, keluarga.
Inilah para pemimpin kawasaran setelah konflik dgn wantik dan mangindano mereda, yakni;
1. Sarian Laurens Tuerah/Tete Kilis(alm). 16 Nov 1876 - 2 Juli 1973,
istrinya adalah cucu dari Dotu Tinus
2. Sarian Marsela Sumarauw/Papa Tin (alm), ibunya Dina Tinus cucu dari Dotu Tinus. Kakak tertua dari oma saya Vinsensia Mene Sumarauw
3. Sarian Pedi Moningka (alm)
4. Sarian Lambertus Koraag/om bitu
5. Sarian Alexander Lontaan/om Sande.
Setiap pergantian pemimpin kawasaran harus didengarkan tanda burung "Ot" melalui Up.adat "Tumalinga si ko'ko", apakah direstui atau tidak.
Bagi saya kawasaran adalah jalan hidup, tradisi seni dari Para Leluhur dan itu mengalir di nadi.
Kawasaran adalah warisan keluarga yg harus tetap dijaga dan dihidupi, ini adalah tarian jiwa penghubung para leluhur dimasa lampau dan pengingat jatidiri kita hari ini.
Kawasaran adalah penanda Taranak, keluarga para pelindung negeri penjaga tradisi.
Sekarang kawasaran ada yg masih berdasarkn warisan tradisi keluarga, adapula kawasaran kelompok tari, diajari.
Yang terpenting dari kawasaran adalah memaknai setiap gerakan, ucapan dan atribut yg dipakai karena sekedar menari saja tidaklah cukup.
Hari ini kita hidup ditengah modernitas tetapi kita tidak boleh meninggalkn tradisi warisan para leluhur karena itu adalah jatidiri kita, pijakan kita sebagai Tou Minahasa.
Karena.....
Seberapa jauh kaki kita melangkah
itu tergantung pada seberapa kuat kita berpijak
I Yayat U Santi!!!